[Review] Gerbang Trinil, Science Fiction Rasa Lokal

Gerbang Trinil, Beberapa bulan yang lalu, saya putuskan untuk membeli buku ini diantara tumpukan buku terlantar di Cuci Gudang Gramedia.

Diantara beberapa buku yang saya beli, Gerbang Trinil adalah buku yang pertama kali saya baca. Namun hanya hari ini saya sempatkan untuk review bukunya.

Gerbang Trinil merupakan novel kolaborasi dari 2 penulis jebolan komunitas Be A Writer yakni Riawani Elyta dan Syila Fatar. Bisa di cek www.Riawanielyta.com dan Facebook Amalia Dewi F.” untuk Syila Fatar.

Diterbitkan oleh Moka Media, novel ini menurut saya sukses membawakan genre yang bisa dibilang langka, science fiction. Mengangkat kisah tentang Ngawi dan Trinil serta membawakannya seolah-olah batas antara kenyataan dan karangan menjadi kabur.

Blurb-nya bisa dibaca dulu

****

Ia datang untuk mengungkap masa lalu.

Areta bukanlah gadis biasa.

Ia terobsesi pada fosil manusia purba Pithecanthropus erectus hingga suatu hari ia menemukan bahwa manusia purba itu belum punah.

Hanya untuk menemukan….

Penyelidikan Areta membawanya ke Trinil, Jawa Timur. Ia berusaha mencari kebenaran dan mengungkapkan rahasia yang disimpan neneknya. Namun rasa ingin tahu justru membawanya pada petualangan yang paling berbahaya.

Bahwa mereka datang untuk menghancurkan masa depan.

Bangsa Pithe bukan hanya kembali ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menguasai bumi dan menciptakan generasi baru di bumi, meski untuk itu manusia harus tersingkir dan punah.

Areta tak punya pilihan lain kecuali berjuang mati-matian. Karena sekarang, ini bukan hanya tentang nyawanya.

Ini tentang masa depan planet bumi. 

*****

Jujur saja, saya untuk pertama kalinya tidak ada rasa tertarik untuk membacanya. Hanya saja saya beli karena mumpung murah saja, sayang kalo didapetin orang lain. Sungguh manusia serakah. Haha.

Sampul nya oke juga. Cuman cerita yang diangkat itu ndeso banget sumpah. Blurbnya serius bikin aku males baca, Menceritakan gadis pecinta fosil phitecanthropus erectus. Tapi segera setelah membuka plastik buku dan mulai membaca, wah buku ini gokil sumpah.

Secara garis besar buku ini menceritakan Areta, gadis pecinta fosil yang kutu buku, cantik dan pintar namun kurang dalam pergaulannya di sekolah. Jam istirahat selalu ia habiskan di perpustakaan, hingga ibu perpus mengenal Areta dengan sangat baik. Dunianya hanya berputar-putar pada buku dengan perpustakaan menjadi orbitnya. Selalu saja tentang phitecanthropus. Bahkan ia berteman dengan Harry Dubois, cucu Eugene Dubois. All about bones. Hingga ayah Harry mendapat penemuan baru mengenai Trinil dan dimulai lah petualangan Areta menguak misteri dan bahkan ia terlibat dengan misteri yang tak semua orang tahu.

Pithecantropus still alive.

Dilihat dari gaya penulisan yang dipakai penulis, saya tanpa sadar sudah berada dipertengahan buku. Sangat ngalir dan mudah di cerna, dideskripsikan dengan lengkap dan detail bahkan untuk dunia diluar bumi. cocok untuk pembaca dengan akal primitif seperti saya. Hanya saja pendahuluan nya terlalu panjang sehingga dalam fikiran selalu ada rasa tak sabar, “Ayoo, buruan klimaks”.

Ngomongin plot, ternyata jauh diluar dugaan. Beda jauh dari blurbnya yang bikin males baca dan mudah ditebak. Ceritanya jauh lebih out of the box dan ga kebayang sebelum baca buku ini. Beberapa kali saya takjub sambil membayangkan jika pithe memang benar-benar ada dan mengawasi kita.

Sangat terasa sekali atmosfer nya, bahkan di novel ini, pithe menggunakan teknologi canggih yang mereka punya, dan memanfaatkan kepercayaan magis untuk menundukkan orang-orang berpikiran kuno. Tuh kan, jadi penasaran kan?

Membaca novel ini seakan mengingat ku pada Planet of Apes, dan Giganto;Raksasa dari Borneo. Bau mawar, lumpur, dan bau lembab badan pithe jadi kebawa di kamar remang tempatku membaca.

Cocok untuk remaja karena bacanya asik dan ga bikin pusing

Rate : 4,5/5 😁

Elyta & Syila Fatar

Penyunting: Dyah Utami

Penerbit: Moka Media

Cetakan: Pertama, 2014

Jumlah hal.: vi + 296 halaman

Comments

2 responses to “[Review] Gerbang Trinil, Science Fiction Rasa Lokal”

  1. Ainun Mas Avatar

    Aku agak jarang baca science fiction. Jarang banget. Soalnya bosen wkwk selera orang beda kali ya. Tapi baca review nya keknya asik buat bacaan. Siapa tau jadi gerbang awal buat suka science fiction ‘-‘

    1. AwaliTaufiqi Avatar

      Aku ada bukunya kok, silahkan kalau mau pinjam hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *