Blog

  • Sastra Itu Yang Bagaimana?

    Sastra Itu Yang Bagaimana?

    Sungguh sederhana, namun sastrawan senior pun akan terkelu-kelu saat berusaha mendefinisikan “Sastra” yang benar-benar Sastra. Jadi, Sastra itu yang bagaimana?

    “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” – Pramoedya Ananta Toer

    Saya rasa perlu untuk menggunakan metode “bird eye view”, dimana kesimpulan diambil dari perspektif yang luas dan melepaskan diri dari segala ikatan yang bisa mempengaruhi pengambilan kesimpulan. Hal ini diperlukan agar tulisan ini terhindar dari “Fallacy” (Kesalahan Berpikir).

    Jadi, saya mencoba untuk menelanjangi diri saya dari berbagai asumsi. Sehingga tulisan ini menjadi sebuah karya yang dibuat oleh seorang suci yang telah terlahir kembali.

    Sastra (शास्त्र, shastra) diserap dari bahasa sansekerta yang berarti teks yang mengandung pedoman atau intruksi (‘cas’ artinya mengajar dan ‘tra’ artinya alat). Sehingga seringkali kita jumpai sastra-sastra perjuangan, karena sebenarnya sastra memang dekat dengan dunia pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    Yang akhirnya melahirkan bentuk-bentuk lain sastra berupa Susastra, Kesustraan, dan Kesusastraan. Yang ironisnya banyak diantara awam menyatakan bahwa itu semua toh sama saja, karena berasal dari satu kata yang sama (sastra). Titik!

    Kata “su-” yang melekat pada susastra mempunyai makna “indah”. Susastra merupakan percabangan disiplin ilmu yang berkonsentrasi pada sastra yang indah.

    Kemudian kesusastraan digunakan untuk menyebutkan/membandingkan pemahaman kadar sastra. misalnya : “Kesastraan novel karangan Seno Gumiro Ajidarma lebih bernilai lebih dari novel karangan Raditya Dika”.

    Sedangkan ‘kesusastraan’ didefinisikan sebagai ‘kumpulan atau hal-hal yang berkenaan dengan sastra’.

    TERJEMAHAN SASTRA

    Dalam penerjemahan kata sastra kedalam bahasa inggris, akan kita jumpai 3 kata untuk mengartikan kata sastra yakni Literature, Humanities, dan Philology. Literatur memiliki arti sebagai bahan bacaan atau dasar yang bisa dijadikan rujukan dalam sebuah penulisan karya ilmiah. Hal ini tak jauh beda dengan penerjemahan sastra yang berasal dari sansekerta yang berarti Tulisan yang mengandung ajaran.

    Pemahaman ini juga sejalan dengan pendapat beberapa tokoh seperti ;

    Mursal Esten (1978 : 9)
    Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).

    Semi (1988 : 8 )
    Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

    Plato
    Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.

    Aristoteles
    Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.

    Robert Scholes (1992: 1)
    Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda

    Sapardi (1979: 1)
    Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.

    Yang kemudian, jauh-jauh waktu setelah dikenalnya sebuah tulisan. Sastra ini terbelah menjadi dua bagian, Yakni Sastra Imajinatif dan non-Imajinatif. Dengan beberapa tokoh yang kita tahu seperti Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Dee Lestari, dan lain-lainnya yang bergerak didalam sastra dengan genre yang berbeda-beda.

    Tapi toh walau berbeda mereka tetap satu jua, dan terikat dalam JUA yang sama. Sastra!

    Jadi, mari kita mencoba mencerna baik-baik petuah dari bang pramoedya. Sastra sebenarnya sungguh sangat sederhana, obsesi segolongan tertentulah yang membuat sastra menjadi kian dihebat-hebatkan dan tertafsir jauh dari asal muasalnya. Jadi sastra itu yang bagaimana? ya sederhana sekali, sastra ya tulisan. proses penerjemahan pemikiran abstrak menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca orang dan mempengaruhi itu lah yang disebut Sastra!

    ======

    Referensi :

    Fallacy (Kesalahan Berpikir)

    https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

    https://indonesiana.tempo.co/read/103451/2016/12/13/Sastra–Susastra–Kesastraan-dan-Kesusastraan:-Apa-Bedanya?

    Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli

    https://duniasukab.com/2015/01/30/seno-gumira-ajidarma-at-idwriters-literary-day/

    https://pengertiankuu.blogspot.co.id/2015/08/pengertian-literatur-dalam-penelitian.html

  • [Review] Gerbang Trinil, Science Fiction Rasa Lokal

    [Review] Gerbang Trinil, Science Fiction Rasa Lokal

    Gerbang Trinil, Beberapa bulan yang lalu, saya putuskan untuk membeli buku ini diantara tumpukan buku terlantar di Cuci Gudang Gramedia.

    Diantara beberapa buku yang saya beli, Gerbang Trinil adalah buku yang pertama kali saya baca. Namun hanya hari ini saya sempatkan untuk review bukunya.

    Gerbang Trinil merupakan novel kolaborasi dari 2 penulis jebolan komunitas Be A Writer yakni Riawani Elyta dan Syila Fatar. Bisa di cek www.Riawanielyta.com dan Facebook Amalia Dewi F.” untuk Syila Fatar.

    Diterbitkan oleh Moka Media, novel ini menurut saya sukses membawakan genre yang bisa dibilang langka, science fiction. Mengangkat kisah tentang Ngawi dan Trinil serta membawakannya seolah-olah batas antara kenyataan dan karangan menjadi kabur.

    Blurb-nya bisa dibaca dulu

    ****

    Ia datang untuk mengungkap masa lalu.

    Areta bukanlah gadis biasa.

    Ia terobsesi pada fosil manusia purba Pithecanthropus erectus hingga suatu hari ia menemukan bahwa manusia purba itu belum punah.

    Hanya untuk menemukan….

    Penyelidikan Areta membawanya ke Trinil, Jawa Timur. Ia berusaha mencari kebenaran dan mengungkapkan rahasia yang disimpan neneknya. Namun rasa ingin tahu justru membawanya pada petualangan yang paling berbahaya.

    Bahwa mereka datang untuk menghancurkan masa depan.

    Bangsa Pithe bukan hanya kembali ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menguasai bumi dan menciptakan generasi baru di bumi, meski untuk itu manusia harus tersingkir dan punah.

    Areta tak punya pilihan lain kecuali berjuang mati-matian. Karena sekarang, ini bukan hanya tentang nyawanya.

    Ini tentang masa depan planet bumi. 

    *****

    Jujur saja, saya untuk pertama kalinya tidak ada rasa tertarik untuk membacanya. Hanya saja saya beli karena mumpung murah saja, sayang kalo didapetin orang lain. Sungguh manusia serakah. Haha.

    Sampul nya oke juga. Cuman cerita yang diangkat itu ndeso banget sumpah. Blurbnya serius bikin aku males baca, Menceritakan gadis pecinta fosil phitecanthropus erectus. Tapi segera setelah membuka plastik buku dan mulai membaca, wah buku ini gokil sumpah.

    Secara garis besar buku ini menceritakan Areta, gadis pecinta fosil yang kutu buku, cantik dan pintar namun kurang dalam pergaulannya di sekolah. Jam istirahat selalu ia habiskan di perpustakaan, hingga ibu perpus mengenal Areta dengan sangat baik. Dunianya hanya berputar-putar pada buku dengan perpustakaan menjadi orbitnya. Selalu saja tentang phitecanthropus. Bahkan ia berteman dengan Harry Dubois, cucu Eugene Dubois. All about bones. Hingga ayah Harry mendapat penemuan baru mengenai Trinil dan dimulai lah petualangan Areta menguak misteri dan bahkan ia terlibat dengan misteri yang tak semua orang tahu.

    Pithecantropus still alive.

    Dilihat dari gaya penulisan yang dipakai penulis, saya tanpa sadar sudah berada dipertengahan buku. Sangat ngalir dan mudah di cerna, dideskripsikan dengan lengkap dan detail bahkan untuk dunia diluar bumi. cocok untuk pembaca dengan akal primitif seperti saya. Hanya saja pendahuluan nya terlalu panjang sehingga dalam fikiran selalu ada rasa tak sabar, “Ayoo, buruan klimaks”.

    Ngomongin plot, ternyata jauh diluar dugaan. Beda jauh dari blurbnya yang bikin males baca dan mudah ditebak. Ceritanya jauh lebih out of the box dan ga kebayang sebelum baca buku ini. Beberapa kali saya takjub sambil membayangkan jika pithe memang benar-benar ada dan mengawasi kita.

    Sangat terasa sekali atmosfer nya, bahkan di novel ini, pithe menggunakan teknologi canggih yang mereka punya, dan memanfaatkan kepercayaan magis untuk menundukkan orang-orang berpikiran kuno. Tuh kan, jadi penasaran kan?

    Membaca novel ini seakan mengingat ku pada Planet of Apes, dan Giganto;Raksasa dari Borneo. Bau mawar, lumpur, dan bau lembab badan pithe jadi kebawa di kamar remang tempatku membaca.

    Cocok untuk remaja karena bacanya asik dan ga bikin pusing

    Rate : 4,5/5 😁

    Elyta & Syila Fatar

    Penyunting: Dyah Utami

    Penerbit: Moka Media

    Cetakan: Pertama, 2014

    Jumlah hal.: vi + 296 halaman

  • [Fiksi] Soekarno, Soeharto, dan Sejarah Kita

    [Fiksi] Soekarno, Soeharto, dan Sejarah Kita

    soekarno-soeharto-dan-sejarah-kita

    Suara tembakan terdengar jelas, membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku pernah mendengar beberapa kali tembakan seperti itu di sekitar kampung. Beberapa orang menggunakannya untuk berburu binatang di hutan.

    Tiba-tiba suara itu lenyap. Hanya tersisa kesunyian yang mencekam. Mungkin salah dengar, pikirku. Dalam kegelapan aku tahu ayah tak lagi bersamaku. Aku begitu merindukannya.

    “Tok.. tok.. tok…”, terdengar ketukan pintu dengan tempo tergesa-gesa. Kudapati anak berusia sebayaku. Dapat kurasakan ketakutan yang terlihat jelas dimatanya, seolah bersembunyi dari sesuatu.

    “Kusno”, dengan suara nafas tertahan ia menjulurkan tangan tanda perkenalan. Aku masih terdiam tanpa kata, menyaksikan bocah asing yang dengan tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam rumah. Ntah apa yang membuatnya berfikir untuk masuk ke rumahku, tapi satu hal yang kini aku tahu, bocah ini adalah Kusno, anak pak Raden. Tetangga sebelah.

    ==–==

    Menjelang pagi hari sinar matahari masih saja redup. Kicauan burung hutan terdengar sayup-sayup. Angin besar sisa semalam benar-benar menusuk tulang.

    “Dirrrmmmmaaaannnn…“, panggil Kusno dari balik pintu. Pagi-pagi sekali kami  akan pergi ke ladang. Sejak kejadian tersebut, kini kami berteman layaknya sebuah sahabat.

    Aku mengenal Kusno sebagai orang yang berkharisma. Apa saja yang dilakukan Kusno, aku dan teman-teman tak segan untuk mengikuti. Apapun yang dikatakan Kusno, kami akan patuh dan mendengarkan. Pembawaan Kusno yang jagoan, bahkan berani berkelahi dengan anak belanda menjadikan Kusno seperti pemimpin diantara kami. Ia juga seorang pemuja seni, dinding rumahnya pun penuh bungkus-bungkus rokok Wesminster keluaran Inggris yang bergambar bintang-bintang terkenal.

    “Hoe gaat het, Dirman? je vanmorgen bent klaar voor avontuur?“, Ucap Kusno dengan dengan bahasa belanda. Tentu saja Kusno bisa berbicara belanda, ia bocah berpendidikan. Bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) mengajarkannya banyak hal, tentunya juga akan memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS). Aku merasa yakin suatu saat Kusno akan menjadi orang besar dan merubah Indonesia.

    “Kusno opmerkelijk, natuurlijk klaar“, timpalku. Aku juga bisa berbicara bahasa belanda. Peninggalan satu-satunya dari Ayahku adalah sebuah kamera dan pena. Menjadi wartawan seperti ayah membuatku harus paham bahasa belanda.

    ==-=-=-=-=

    Terbaring di ranjang rotan ini membuatku nyaman sekali, aku tak pernah merasa begitu hidup. Ku pejamkan mataku pelan-pelan. Hanya suara jangkrik yang menemaniku malam ini.

    “Sodara.. Sodaraa.. Rakyat Indonesiaa..“, Teriak Kusno dari kamar kosnya yang pengap itu, di depan cermin. Suaranya yang lantang sangat mengganggu tetangga sepertiku. Sudah kesekian kalinya Kusno berlatih orasi. Kusno mengaku ia terilhami oleh perkataan HOS Tjokroaminoto, “Demi menjadi orang besar, pemuda harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.”
    “Sudah gila kamu ya”, ucapku berteriak karena jengkel dengan polahnya yang hobi berbicara sendiri.

    =-=-=-=-=

      Kami berpisah ketika kusno akan melanjutkan pendidikan nya di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Sedangkan aku sendiri juga akan bekerja di Jakarta, aku mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu media surat kabar di Jakarta. Tempat bekerja ayahku dulu.

    Ketika aku sukses membangun karirku di dunia surat kabar, aku mendengar desas-desus Kusno aktif berorganisasi di organisasi kemerdekaan. Tepat 17 Agustus 1945, Kusno yang dikenal kebanyakan rakyat Indonesia dengan Soekarno itu pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Aku tak mau ketinggalan dalam mengabadikan momen bersejarah ini. Pengaruh Soekarno pada sejarah Indonesia besar sekali, tidak mungkin orang memungkiri. Kusno yang kukenal memang orang yang luar biasa. Jika Kusno berjuang dengan akal dan kekuasaan, maka aku berjuang dengan akal dan tinta.

    =-=-=-=-=

    Puji Tuhan karena telah memberiku umur yang panjang. Keadaan berubah banyak setelah kematian Soekarno, Sahabat kecilku. Kini media di bungkam. Tak boleh ada kritik. Soeharto suka membelenggu pers. Sepertinya terdengar jahat. Ya memang.

    Namun di sisi yang lain, cara ini mampu meredam berbagai keadaan dan membangun citra tentang negara yang aman dan pemimpin yang berwibawa tanpa cela. Saat itu tidak ada media satupun yang berani mengkritik pemerintah secara terbuka. Berita yang berpotensi mengundang konflik, seperti perkehian antar-etnis, langsung disikapi dengan mengirim rilis ke semua media agar tak memuatnya. Di zaman Soeharto, media yang berani menyentil presiden akan ‘dilenyapkan’.

    Aku termasuk orang yang dilenyapkan, Memasuki Orde baru, aku tak punya siapa-siapa lagi. Keadaan membuatku harus bertahan hidup dengan mandiri. Dengan tato aku bertahan hidup. Bergumul dengan para preman sudah menjadi keseharianku.

    Beberapa waktu kemudian, muncul istilah petrus. Mereka menghabisi para preman tanpa proses peradilan. Kalau tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati. Keadaan ini tak hanya membuat para preman resah, tetapi orang yang mempunyai tato juga ketakutan. Mereka khawatir menjadi korban keganasan petrus. Sudah ku coba untuk menyetrika tatoku sendiri. Namun citraku yang buruk membuatku berada disini, di ladang. Menunggu ajal datang dengan tangan dan kaki terikat.

  • 3 HARI PENDAKIAN ARJUNA

    3 HARI PENDAKIAN ARJUNA

     

     

    1483771453043
    Cover 3 Hari Pendakian Arjuna

     

    Untuk Mama dan Papa.

    Teman-Teman

    Ardian, Tebo, Dinner, Gufron, Ebes, & Dhoni

    3 Pendaki

    Terima kasih atas besarnya cinta, kasih sayang, dan keringat yang tak akan penah bisa saya balas

     

     

    ======= “ DINNER ” =======

    Semburat cahaya matahari masih terlihat begitu tipis. Dering sms membangunkanku yang sedari tadi menghempaskan tubuh di kasur, sembari mendengarkan alunan nada Monita Tahalea. Aku membacanya. Sebentar-sebentar aku menarik napas.

    Ini awali? Salam kenal, aku Dinner. Aku dapat kontak kamu dari upik, temanmu anak Paskibra. Tanggal 3-5 Juni ada rencana Pendakian Arjuna, Kita kekurangan orang. Timku tak akan lengkap tanpa dirimu. Kuharap kamu menerima tawaranku ini.

    Tanpa basa-basi segera ku balas sms tersebut, mengabarkan jika aku menerima tawaran. Kemudian berlanjut hingga bertemu di rumah salah seorang teman.

    Malam itu sama seperti malam yang lain, Sorot lampu dan bising kendaraan yang berlalu-lalang menemaniku menunggu seseorang bernama Dinner. Mungkin sebaiknya saya main ke rumah Aisyah dulu sembari menunggu datangnya Dinner ini. Tepat pukul 10 malam masih belum ada kabar tentang dia, saya puaskan hari itu sembari bercengkrama bersama teman-teman pecinta alam. Aku  menceritakan tentang seseorang bernama Dinner yang mengajakku ke Gn. Arjuna. Berharap jawaban apa ada dari teman-teman yang bersedia ikut menemani rencana ini.

    “ Tanggal 6 Juni sudah puasa, mana mungkin aku ikutan aw. Sayang banget kalo entar ngga ikut tarawih pertama.” Lauren menjawab. Yusriqo, Niatus, Thoriq, Aisyah, & Ardian mengangguk diam tanda setuju dengan pernyataan lauren. Saat itu pukul 22:48 dering sms masuk, ternyata dari Dinner yang sudah sampai di lokasi.

    “ Baiklah guys, btw aku balik dulu ya. Dinner udah nungguin di lokasi “ Jawabku singkat. Melambaikan tangan sembari membenarkan posisi motor.

    “ Hati-hati aww.. Semoga sukses rencananya “ sahut semua teman yang membalas pamitanku yang penuh penyesalan itu. Segera aku tancap gas mengejar waktu karena Dinner sudah menunggu di Lokasi.

    Aku kira pertemuan itu hanya sebatas wacana seperti yang kebanyakan teman lakukan. Tapi ternyata tidak. Pertemuan ini berlanjut bahkan sampai tahap pencarian tim lainnya. Dinner bersama kawannya Gufron, Dhoni, Ebes, & Tebo. Sedang aku bersama seorang teman seperjuangan dari extrakulikuler pecinta alam, Ardian.  Ya, Ardian berubah fikiran setelah membantuku mencari orang. Ardian sudah mendapat restu dari orang tuanya, maka tak ada lagi alasan bagi ardian untuk menolak kesempatan ini.

    ========   “ ON THE WAY ” ==========

    Berkendara dalam bus adalah bagian dari hidup. Lagipula bepergian dengan kendaraan pribadi membuat saya semakin kesepian. Bukan saya tak pernah sendiri. Justru karena saya terlalu sering sendiri. Saya mencari tempat yang bisa membuat saya bertemu banyak orang.

    Beruntung 6 orang pendaki ini juga setuju dengan pendapatku. Kami sepakat untuk bertemu di pintu keluar Terminal Bungurasih pukul 13:00 seusai sholat Jumat.

    Berjalan kebingungan mencari teman yang tak kunjung kelihatan rupanya membuatku sedikit kecapekan. Bulir keringat sudah terjatuh dari dahi dan ketiak akibat kepanasan. Benar-benar keadaan yang merusak suasana hati. Tiba-tiba seseorang menarik lengan bajuku.

    “ Sudah lama?.” Tanya Gufron yang sudah menunggu sedari dari bersama Tebo.

    “ Barusan sampai kok“, jawabku singkat. “Btw, mana yang lain?” sambil melirik ke kanan-kiri mencari Dhoni, Dinner, & Ebes. “Ardian masih otw guys, masih di terminal bratang nyari bus kota”tambahku.

    “ Nah, Kebiasaan tuh yang lain. Udah datang cepet-cepet, yang lain malah telat. Hufftt “

    Sembari menunggu yang lain, aku menyempatkan diri untuk berjalan membeli sesuatu yang bisa dimakan. Sudah dari pagi aku tak makan, hanya sebuah roti untuk mengganjal perut sementara.

    “Buah.. Buah.. Buah.. Rujakk manissssss”, Suara khas rujak buah menarik perhatianku. terhitung Rp 5,000 lenyap berganti dengan bungkusan buah berharga seribuan.

    Beberapa jam menunggu, dan tepat pukul 16:30 kami berangkat dari surabaya ke Tretes menaiki bus Surabaya-Malang.

    “ Bus biasanya sih digunakan oleh mereka yang pergi liburan atau sekedar pekerja yang mempunyai pekerjaan di luar kota”, Ujar gufron, salah seorang temanku yang menjadi pelanggan setia bus ekonomi.

    Mendapat fasilitas AC dan tempat duduk, tarif kereta ini terbilang murah menurutku, tujuh ribu lima ratus rupiah untuk sekali jalan. Menurutku, dengan naik bus ekonomi kita akan banyak belajar mengenai hidup. Karena di dalam sana kita akan dapat melihat berbagai macam realitas hidup tanpa manipulasi seperti di surat kabar. Ah, mungkin aku saja yang terlalu filosofis menanggapi hal ini. Pernah aku mendengar orang berkata jika surat kabar berita berisi tentang kebohongan, membuat kita buta akan kebenaran. Aku tak terlalu percaya.

    — “Pos perizinan-Pet Bocor-Kop kop an “ —                 ====== “ DAY 1 ” ======

    Langit masih cukup gelap, derap langkah orang yang lalu-lalang masih terdengar begitu jelas. Kami berangkat dari pos perizinan saat matahari telah bersembunyi menunggu ayam jantan berkokok kembali. Aku hanya satu dari sekian banyak pendaki lainnya.

    Pemandangan pohon dan beraneka tumbuhan menjalar itu sudah biasa kulihat. Entah seolah ada suatu hubungan yang membuat diriku dekat dengan alam yang misterius ini. Belum lama melangkah, menuju perjalanan ke Pet Bocor, barisan belakang, aku dan gufron mendengar suara macan. Namun, Ebes membantah jika kami hanya mendengar suara udara yang melewati pipa-pipa air. Dinner bilang itu hanya suara kodok pengunungan. Ah, ini sudah malam. Ada benarnya juga untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Kami semua berlalu seolah tak pernah terjadi apa-apa.

    Sampai juga di Pet Bocor, kami mengisi ulang air yang tadi telah habis dalam perjalanan. Terlihat banyak pendaki lain beristirahat di Joglo maupun memasang tenda di sekitar Pet Bocor. Tak ingin rasanya berlama-lama, kami mulai meneruskan perjalanan menuju Kop kop an.

    Tepat pukul 21:00, Kami tiba di kop kop an. Dengan segera teman-teman mendirikan tenda dan mulai menata barang yang dibawa. Sedangkan aku sendiri sibuk menelusuri hutan bersama ardian untuk mencari spot terbaik untuk buang air kecil.

    “ Oy, Lihat ke atas “, Ujar Ardian. Sambil mengacungkan jarinya ke arah atas.

    Kami melongo melihat sesuatu yang tak biasa kami lihat, sebuah BINTANGG!! Indah menyala di kegelapan malam. Seperti lampu-lampu kecil di taman hiburan. Walau suhu mulai menusuk kulit, aku tetap bertahan di luar tenda menyaksikan bintang-bintang kecil di langit.

    “ Awww… Masukk.. Ntar kena Hipotermiaa “, Kata Dinner sembari melambaikan tangan megisyaratkan agar aku segera masuk ke tenda. Namun bagaimana lagi, Aku suka bintang. Bintang mengingatkanku, akan selalu ada cahaya walau dalam kegelapan. Kunang-kunang menemaniku melihat bintang-bintang saat itu.

    Bbrrrr… Dingin mulai menusuk lebih dalam dari sebelumnya, aku masuk ke dalam tenda. Mencari posisi wenak buat tidur sambil membentangkan Sleeping Bag, Dan dalam hitungan detik mata terpejam. Tigaa… Dua… Satuuu… Bruuuttt.. Brut.Bruttttt… Asemmm, Dinner kentut. Kurang ajar! Kini ruangan tenda yang hangat&nyaman berubah menjadi neraka dengan bau jahanam yang menggetarkan jiwa. Kami lantas berlarian keluar tenda mencari udara segar, kecuali Dinner. Dia menikmati kentutnya.

     

    —- “ Kop Kop an – Pondokan – Lembah Kidang ” —-               ====== “ DAY 2 “======

    Kedua kakiku masih terasa pegal. Punggungku rasanya remuk. Kedua tanganku kaku. Telapak tanganku kesemutan.

    Menjelang pagi hari sinar matahari masih saja redup. Kicauan burung hutan terdengar sayup-sayup. Angin besar sisa semalam benar-benar menusuk tulang. Pagi benar saya sudah bangun, mengabaikan godaan selimut yang sejak tadi meminta tubuh saya untuk bersembunyi saja didalamnya. Tidak mandi, tetap makan, jalan seharian. Ah rutinitas seperti ini biasa saya lakukan saat pendakian.

    Ebes masih tertidur pulas dalam pelukan sleeping bag yang hangat. Dhoni sibuk mengabadikan sunrise dalam jepretan kameranya, sedangkan Ardian, Gufron, Tebo, Dinner, dan Dhoni dibawah terik matahari menghangatkan diri dari dinginnya pagi yang bercampur kabut. Saya sendiri memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri wilayah hutan, sekedar melepas hajat yang tertahan sejak kemarin malam.

    “ Lii..” , Suara seorang perempuan memanggil namaku

    “ Jam berapa sampai di sini? “, sosok tersebut sekarang tak lagi asing. Mbak Novi, seniorku dalam ekstrakulikuler pecinta alam. Tak kusangka momen liburan 3 hari ini ia manfaatkan juga untuk mendaki. Kulihat mbak Novi kecapekan, disusul seseorang dibelakangnya yang lama kelamaan aku mengenalinya. Mbak Jihann… Ya tuhan. Kebetulan macam apa ini, tak lama kemudian 2 perempuan manja tersebut merayu agar dapat tidur di tendaku.

    Tenda dome dalam keadaan kosong, kami melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam lagi setelah memasak perbekalan. Kurasa mereka bisa tidur untuk sementara waktu. Memasak adalah hal yang mudah. Hanya tinggal menyiapkan Nesting ( peralatan masak yang sering digunakan pecinta alam ) kemudian meracik beras dengan air dalam takaran yang pas. Kemudian menyalakan api, yaa itu hal yang mudah bagiku. Dan baru kusadari ketika 30 menit berlalu, beras memang sudah menjadi nasi, namun masih keras dan gosong dibagian pinggirnya. Ah, memasak ternyata sulit.

    Kumakan nasi yang tak enak itu dengan baluran sarden ikan yang hangat. Harus mengisi tenaga, itu yang aku pikirkan.

    Tepat pukul 9 pagi kami berberes-beres dan mengusir kedua betina itu dari mimpinya yang pulas. Kami harus segera menuju Lembah Kidang.

     

     

    —- Lembah kidang – Watu gede – Puncak – Pasar Dieng —-  ====== DAY 3======

    Di Lembah yang hijau penuh rerumputan inilah kami beristirahat, dibalik besarnya pohon kami berharap angin dingin bisa tertepis. Tempat ini sangat ideal bagi kami, dekat dengan sumber air, dataran yang empuk dan tentunya bukan jalan utama yang sering dilalui pendaki. Dapat kurasakan suara alam yang berbisik kepadaku. Angin sepoi-sepoi perlahan tapi pasti menidurkan kami dalam dekapan sleeping bag yang hangat. Aku bahkan membenamkan diriku dalam tumpukan pakaian yang tak ku pedulikan lagi kerapiannya.

    Bintang-bintang mulai menggantikan sosok matahari sang bunda angkasa, hutan mulai menyuarakan hatinya, suasana saat itu ramai oleh beraneka ragam penghuni alam lainnya.

    Dingin mulai menusuk kulit, beberapa teman memutuskan untuk membuat minuman wedang untuk menghangatkan badan. Sedangkan aku, terdiam dibalik tenda yang tertutup rapat, menunggu wedang hangat mengetuk pintu. Ku isi kekosongan waktu ini dengan membaca buku, aku tahu dengan membaca buku akan bisa membuatku lebih hangat. Pikiranku harus berfikir lebih keras agar dapat memahami kalimat puitis didalamnya. Proses itu yang menyebabkan aku menjadi hangat.

    Sudah diputuskan oleh Dinner, tepat jam 2 dini hari kita berangkat menuju puncak. Hanya sunrise yang membuat kami menyetujui keputusannya. Aku memang bisa melihat sunrise setiap pagi dari sudut rumah di Surabaya. Tapi sunrise di puncak arjuna? Sungguh pengalaman yang sangat berharga.

    Dum dum dum, suara dangdut Malaysia terdengar. Sial, apa tak ada nada lain untuk alarm selain dangdut Malaysia?. Mungkin Ebes menginginkan agar semua dapat terbangun dengan suka cita berjoget ria di kegelepan malam. Entahlah, hanya Tobes dan tuhan yang tahu. Namun entahlah, ketika semua sudah terbangun, Ebes enggan beranjak dari tenda. Hanya Ebes yang tahu jalannya. Kami pun pasrah saja mendapati Ebes tidak mau meneruskan perjalanan.

    “ Nanti saja, Setengah 8 “. Kata Ebes sebelum menutup rapat-rapat sleeping bagnya. Suatu keanehan bagi Ebes yang sifatnya “Tatak” kemudian tak ingin beranjak dari tenda untuk melanjutkan perjalanan. Sudahlah, tidur lebih enak daripada berfikir.

    PUNCAAKKK… Puncak sudah di depan mata. Kucatat 11:30 kami sampai di puncak. Dengan beberapa pendaki lainnya. Yang melewati berbagai jalur yang berbeda dengan kami. Bahkan suara angin pun terdengar seperti air terjun, sebegitu kencangnya. Sebelumnya kami sempat merenung ketika melihat kuburan bernisan, tertulis 27 februari 1999. Ada juga beberapa nisan dengan ukiran yang tak jelas. Kemungkinan itu adalah kuburan pendaki yang meninggal karena hipotermia. Hal ini membuat kami ingat akan kematian yang bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Kami berhati-hati sejak saat itu.

    Syukurlah ada pendaki yang berbaik hati menawarkan makanan pengganjal perut. Memang suatu kesalahan hanya membawa perbekalan minuman saja dari lembah kidang. Kami melahap roti dan kacang layaknya memakan makanan dari surga. Bahkan kacang yang terjatuh pun tak segan untuk mengambil dan memakannya.

    “Heee.. Heee…”, kataku sambil menunjuk pendaki dengan tas besar dan sebuah benda seperti selimut.

    Dalam dingin yang menusuk ini ada saja pemandangan yang menarik untuk dilihat. Ada seseorang yang mencoba untuk berparalayang. Sungguh tak bisa dibayangkan betapa dinginnya menembus kabut di ketinggian 3339 mdpl.

    Teringat besok sudah puasa, tak kuasa badan yang capek ini harus bergegas menuruni gunung.

    “Klekk…”, Kakiku terkilir.

    “ kenapa li? “ Tanya Ardian. “Haha, tak apa, hanya ranting patah karena ku injak”. Ucapku dengan menyembunyikan sakit ini. Terkilir tak akan menghambatku. Aku anak gunung.

    Blek, blek, blek.. kulihat teman sudah berada jauh didepan. Seperti pelari saja mereka turun. Sempat terlintas dibenak untuk menggelinding saja menuruni bukit. Rasa sakit akibat terkilir mulai terasa. Ah, aku sudah tak kuasa lagi.

    Mmm.. Kurasa teman-teman tersesat. Begitu juga denganku yang mengikuti mereka. Disuatu tempat yang sepertinya pernah dilewati beberapa pendaki. Karena aku melihat bungkus permen dan kaleng disekitar perjalanan. Pasar Dieng, kulihat plakat itu tepat disamping sepatuku, tertimbun oleh dedaunan dan ranting yang mengering. Perasaanku mulai tak enak. Teman-teman pun juga tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Aku tahu ini pasti berkaitan dengan hal mistis. Hanya saja aku belum tahu kisahnya. Aku tak takut.

    Dengan skill pecinta alam akhirnya kami semua dapat berjalan ke jalur yang benar. Cukup sulit untuk menemukan jalur di rimbunnya hutan arjuna. Hampir semuanya terlihat sama. Mendaki bebatuan di samping jurang merupakan usaha kami menuju jalan yang benar. Dan akhirnya, Alhamdulillah.

    Dengan tenang teman-teman mulai santai dan bersyukur karena tidak tersesat lagi. Mereka menuruni gunung lagi seperti para pelari. Seolah melupakan kejadian di pasar dieng tadi.

    Beberapa teman ternyata menungguku yang lama sekali dibelakang.

    “ Guys, kalo turun ya turun aja. Ga usah nungguin gua “, ucap ku. “gua mah udah afal sama jalur tretes”. Tambahku untuk meyakinkan mereka.

    “ Engga li, bareng aja. Berangkat bareng pulang kudu bareng “. Woo, perkataan mereka sejenak membuatku terharu dan bahagia.

    “ Gini aja deh, aku turun duluan. Nanti kalian nyusul. Orang kaya gua mah ga butuh istirahat ya kuat-kuat aja, cuman ya lama aja jalannya”, dan mereka masih tak tahu apa yang terjadinya dengan kakiku, Ah, jika tak terkilir mungkin saja ada pelari lain yang akan menandingi teman-temanku. Aku.

    Dalam perjalanan menuruni gunung ini aku memilih untuk menggunakan jalan kompas, sebuah jalan pintas yang memotong jalan berliku-liku. Jalan compass jarang dilewati pendaki. Dan hanya pendaki-pendaki yang sudah paham betul akan medan yang berani menggunakannya. Salah sedikit, bisa saja keluar dari jalur dan akhirnya tersesat.

    Beberapa kali aku salah memasuki jalur yang aku kira jalan kompas, masuk lebih dalam kudapati tubuhku tersangkut dahan-dahan yang menjalar. Instingku mulai aktif. Aku kembali ke jalur semula karena aku tahu jalur ini sudah lama tak dilalui manusia. Bahkan di salah satu jalur kompas aku berjumpa dengan kuburan tanpa nama. Dengan bunga-bunga segar berserta kendi-kendi kusam di sekitarnya. Perasaan takut itu mulai datang, aku tahu ini sore dan sesegera mungkin aku harus keluar dari jalan kompas.

    Jauh melangkah di jalan kompas, setelah berjumpa dengan kuburan tanpa nama. Aku merasa jalan ini semakin panjang. Aku jadi ragu apa benar ini jalan kompas atau hanya jalur reruntuhan batu vulkanik dan aliran air. Pikiranku jauh melayang, takut akan tersesat, takut akan kesendirian, dan takut akan kegelapan. Di dalam gelap jalan setapak sulit terlihat, salah-salah bisa masuk jurang nantinya. Apalagi tas yang aku bawa punya gufron, setelah aku keluarkan isinya ternyata hanya ada minuman, jas hujan, dan tripod. Tidak ada senter, headlamp, makanan atau apapun untuk mencukupi diriku hingga esok hari. Dengan ragu aku terus melangkah, sempat juga menangis mengira aku tersesat, dan ternyata jalan kompas ini benar. Hanya aku saja yang belum pernah melewati jalan ini.

    Kuputuskan untuk tak melewati jalan kompas lagi, sudah 17:21 dan langit biru perlahan tergantikan oleh langit senja. Aku tahu sebentar lagi gelap. Hanya ada dua pilihan didalam benakku. Berhenti menunggu seseorang atau tetap berjalan dalam keremangan malam. Kakiku terus melangkah menuruni bukit. Aku menguatkan diriku, Awalii.. kalo kamu nunggu dijalur aman terus temenmu lewat jalur kompas, kalo nggak ketemu gimana?.

    Langit sudah malam, dapat kulihat kelap-kelip di sela-sela dedaunan hutan. Aku dapat melihat kunang-kunang yang indah. Namun kunang-kunang dengan cahaya putih ini membuatku merinding sekaligus tertarik. Aku percepat langkahku. Dan Aaaaaa… sosok itu berada didepanku.

    Tenang saja, hanya sosok pendaki lain yang sedang beristirahat.

    “Mas, boleh join ngga? Ga bawa senter nih, dibawa sama teman dibelakang”

    “gapapa mas, santai aja. Ini headlampku sampeyan bawa”. Sambil menyodorkan headlampnya.

    Baik hati sekali mas-mas yang tenyata berasal dari Surabaya juga seperti aku.

    “hanya 3 orang mas?” tanyaku dengan memandang mereka secara bergantian”

    “ endak mas, rombongan orang banyak kok. Cuman temenku ini kakinya terkilir. Sialan tuh yang lain, bukannya nungguin malah ditinggal “

    Teman macam apa yang sanggup meninggalkan temannya yang lain? Tanyaku dalam hati. Namun kudapatkan jawaban setelah tahu ketika rombongan mas-mas ini tidak semuanya saling mengenal. Mereka disatukan oleh poster Trip To Arjuna yang terpublis di grup facebook salah satu penggiat alam.

    Mendengar suara gemerisik air, aku tahu pet bocor sudah dekat. Sudah 90 menit berlalu sejak melewati kop-kopan sendirian tadi. Dan akhirnya, hulala. Kami beristirahat di pet bocor, basecamp sekaligus tempat makan karena disana ada warung.

    Beberapa temanku mulai turun satu persatu, dengan tempo yang cukup lama.

    “ Bes, mana yang lain? Tebo, ardian? “

    “ Masih dibelakang, Tebo kakinya kumat. Makanya agak lama ”

    Ebes dan gufron yang datang kedua setelah aku, langsung saja menuju pos perizinan. Tanpa mampir di pet bocor dulu.

    “ ngga mampir dulu bes? Fron? “

    “ nggak, aku tunggu dibawah aja, kamu disini aja nunggu yang lain ”

    Mmm.. menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Karena menunggu itu tak enak, maka dari itu tak ku tunggu. Mending njajan tempe menjes dan tahu isi di warung pet bocor. Tak terhinggu berapa gorengan yang telah terlahap. Aduh, bingung bayarnya ini nanti. Au ah, borong aja semua. Palingan juga dapat grosiran, haha.

    “Oii ann.. lama banget.”. dari jauh kulihat seseorang menuruni gunung. Dan itu Ardian. Menyusul dibelakang juga. Dhoni, Dinner, dan Tebo. Muka kusut, badan dekil. Anak gunung banget rasanya ngeliat penampakan mereka.

    Setelah puas beristirahat dan bercengkrama bercerita dengan kawan dan pendaki lama yang baru ditemui. Yang menceritakan kisahnya mendaki saat tahun 1998, banyak yang berubah saat ini, dulu sering ditemukan hewan buas seperti macan atau harimau, *saya lupa* saat melintasi jalur pendakian. Dan sebuah kolam indah 3 bagian di daerah pondokan. Namun kini sudah berubah menjadi batuan biasa layaknya reruntuhan sebuah peradaban.

    Turun.. turun.. dan turun.. aku tahu kami semua lelah. Namun jangan sampai esok melewatkan kesempatan berharga. Puasa pertama bersama keluarga.

     

    ======== ON THE WAY ========

    Aku berpegangan erat pada tiang-tiang bulat yang menggantung di atas kepala. Ardian, Tebo, Dinner, Gufrron, Ebes, & Dhoni berbaris tepat bak anak paskibra di sela-sela kursi penumpang. Wajahnya terlihat lelah. Kami tidak kebagian duduk. Selain manula, hanya ibu hamil yang berhak mendapat perlakuan istimewa di dalam bus.

    Banyak kisah mulai dari suara siluman, tendangan tenda, bau kembang, pasar dieng, kuburan tanpa nama, 3 Pendaki dan lain sebagainya yang pasti tidak akan sempat saya ceritakan di sini.

    Namun akan saya sempatkan cerita demi pembaca yang berbahagia ini. Didalam bus yang sumpek ini, dan hanya aku saja yang kebagian tempat duduk karena penumpang lain ada yang keluar sebelum sampai disurabaya. Aku sempatkan mengobrol, menghibur diri diatas penderitaan teman-teman yang berdiri.

    Pada awal keberangkatan, dimana Ebes dan Dinner memilih membungkam mulut ketika aku bercerita mengenai suara macan. Ebes bilang itu adalah suara siluman yang mengintai para pendaki. Menunggu seseorang untuk dijadikan tumbalnya. Namun, aahh.. aku tak terlalu percaya. Mungkin saja memang siluman asli. Seumur hidup rasanya aku belum pernah bertemu dengan hal mistis. Selalu saja ada hal yang bisa dijelaskan dibalik sesuatu.

    Kemudian kesaksian ardian ketika mencium bau kembang saat menuruni gunung. Dan setelah itu kami semua tersesat di wilayah bernama Pasar Dieng. Mitosnya, Pasar ini adalah pasar hantu. Banyak yang datang menyaksikan hiruk pikuk pasar di dekat puncak. Agak janggal memang, namun banyak saksi hidup. Mereka mengaku telah membeli sesuatu dari pasar dieng. Dan ketika pulang kerumah, didapati barangnya lenyap tak berbekas. Hanya tersisa uang kembalian yang secara ajaib berganti menjadi uang-uang kuno zaman kerajaan. Ada juga yang terperangkap dalam dunia “mereka” tanpa pernah kembali dalam waktu yang singkat.

    Sebelum itu, di Lembah Kidang. Saat ketika Ebes menyanyikan lagu nasional dangdut malaysianya itu. Ternyata ada mereka dari dunia lain yang merasa terusik oleh suara yang mengganggu tersebut. Ebes menyaksikan sendiri bagaimana plastik yang tadinya diam tiba-tiba tertarik sesuatu tanpa ada angina ataupun hewan lainnya. Bayangan seseorang yang berputar mengelilingi tenda. Dan serangan fisik yang terjadi pada tenda. Seolah tenda dilempari batu oleh seseorang dari arah atas. Namun, Ebes tahu itu bukan batu. Dan karena alasan itu Ebes enggan beranjak dari tendanya saat pukul 2 dinihari. Ingat?

    Kuburan tanpa nama dan 3 pendaki sepertinya sudah saya ceritakan diatas. Gunung merupakan tempat yang misterius. Kita tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan suara langkah sepatu yang berat pun saya dengar tanpa terlihat siapa pemiliknya. Kebetulan saat kesendirianku dengan hutan dilangit yang mulai menggelap itu bertepatan dengan bulan suci. Semua setan terbelenggu bukan? Itu cukup menenangkan hatiku sementara itu. Sungguh indah bulan Ramadhan.

     

     

    3-hari-pendakian-arjuna-by-awalitaufiqi

  • Patah Tumbuh Hilang Berganti

    Patah Tumbuh Hilang Berganti

    “Bro, ini rantai loe ga apa kan?”
    “Tenang bro, cukup percaya saja. Ga bakal putus kok”

    Rencana Tuhan sih ngga ada tahu, bahkan nyari trailernya di YouTube pun ngga bakal ada. Satu-satunya hal untuk tahu adalah dengan mengalaminya. Gue mengalaminya, dan kemarin lusa gue jadi tahu tentang rencana Tuhan.

    Hari itu Sabtu, gue udah nyiapin rentetan jadwal yang harus gue lakuin hari itu juga. Dari pertemuan organisasi pecinta alam, Hangout bareng temen, Service Laptop temen, sampe malam mingguan sama gebetan gue.

    Pertemuan udah kelar, saatnya hang out di lobby sekolah sambil berwifi ria dalam hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Hingga suatu ketika…

    “Bro, cari makan yuk!”, Gue nyletuk
    “Ogah ah, download-an gue belum kelar”, rival gue jawab. Siapa juga ngajak elu
    “Dimana?”, Nah ini jawaban yang gue butuhin.

    Akhirnya dipastikan gue sama Burhan *nama samaran* berangkat naik motor nyari makan ninggalin si rival wifian sendirian di lobby. Kasihan, udah tau libur, bukannya liburan, masih aja main di sekolah.

    Hingga, rencana Tuhan memberikan sedikit spoiler.

    “CRACK!!!!”, Teriak rantai motor gue.
    “Bro, ini rantai loe ga apa kan?”
    “Tenang bro, percaya saja gapapa. Ga bakal putus kok”
    “CRACK!!! Nyiiitttt!?!!!”

    Seketika itu gue merasa seperti seorang pendosa. Baru saja gue ngomong, kenyataan yang tak diharapkan terjadi. Dalam sepersekian detik rantai motor gue putus dan motor berhenti mendadak. Sontak, si Burhan mengangkat bagian belakang dan gue coba menepikan motor ke pinggir jalan.

    Berjuanglah sampai akhir! Dari gue untuk gue

    Jadi inilah akhirnya, Menuntun motor ke jalan yang benar. Mungkin ini teguran dari Tuhan kalau gue kurang berolahraga.

    Beragam gaya mendorong motor gue praktekkan selama dalam perjalanan. Dan ya, hanya sebatas bualan sepasang sahabat yang putus asa di tengah jalan.

    “Bro, rasa-rasanya pingin gue lari sambil ndorong nih motor terus ngelepas motor nih biar dia berangkat sendiri ke bengkel”

    “Bro, gue naik lu yang dorong dari belakang ya”

    “Bro, lu naik gue tarik pake tali dari depan”

    “Bro, talinya iketin ke truk depan”

    “Bro, TELOLET Bro!!!”

    “Bro, pinjem sabuk lu buat nggantiin rantai”

    “Bro, ah udah lah capek gue”

    Kemudian kami berdua sampai di bengkel, dan mendengar pernyataan buruk bahwa rantai harus diganti dengan harga Rp 100,000 belum termasuk biaya pemasangan. Gue urungkan niat mbengkel, dan nitipin motor gue aja ke sekolah.

    Minum es campur pinggir jalan

    Sungguh hari yang panjang, ditengah perjalanan gue minum es campur. Dan suatu rahasia, sepeda motor gue taruh di sekretariat pecinta Alam, hehe. Abisnya ga ada yang jaga sewaktu liburan.

    Gue pulang, seharusnya inginkan bersantai namun apa dikata. Jadwal tetap harus dijalankan. Wehehe…

    Foto lain :

    Lihatlah betapa tragisnya hidup ini
    Wajah putus asa yang menantikan datangnya keajaiban
    Gue berhasil merubah sekretariat menjadi garasi
  • Hari Guru, Bunga Ini Buat Siapa?

    Hari Guru, Bunga Ini Buat Siapa?

    Hari ini hari guru, Spesial banget buat beberapa orang dan biasa-biasa saja buat sebagian orang. Di SMA saya sendiri, setiap 25 Nov kami merayakan hari paling spesial dalam 3 kehidupan.
    Dibeberapa negara hari guru merupakan hari libur, weehh… Tapi kenapa Jumat ini masukkk 😂

    Tapi memang adanya hari guru merupakan bentuk penghargaan terhadap guru. Bisa guru favorit, guru kalem, guru gabut, guru pelit nilai bahkan guru killer.

    Kebiasaan kami saat saat merayakan hari guru adalah memberikan bunga kepada guru yang kita sayangi. Saat upacara memperingati hari guru selesai. Salah satu siswa terpilih akan membacakan puisi, setelah itu akan ada supriseeeeee spesial dan kami akan menyanyikan hymne guru bersama-sama.  Sungguh epic, kemudian setiap siswa yang sudah membawa bunga masing-masing akan memberikannya kepada guru yang tercintaaa.. so sweettt…

    Banyak tawa dan canda pagi tadi, yang mungkin akan tetap terkenang saat sudah sukses kelak. Sesuai dengan judul Hari Guru, Bunga ini buat siapa? Adalah candaan dari beberapa teman yang mungkin ingin memberikan bunga dengan cara yang anti mainstream. So, bunga ini buat siapa?

    Adek kelas

    Yups, untuk kakak kelas ga boleh lupa dong buat kecengin adek kelasnya. Apalagi yang udah berujung kasmaran. Kebanyakan tipe kakak kelas seperti ini adalah mereka yang kehabisan stok di angkatannya sendiri. Kurang ajar banget nih orang, merusak pasar dengan saling sikut berebut produk. 😄

    Guru pemarah/Killer

    Harusnya bukan bunga nih kalo guru pemarah/Killer, tapi di kasih snickers. Karena dia rese’ kalo lagi laper. Bisa-bisa bunganya dimakan juga ntar, tapi memang di hari yang spesial ini sejahat-jahatnya guru bakalan ngeluarin senyum dari hati yang paling dalam kok. Uuu.. 😘

    Guru pelit nilai
    Itung-itung buat sogokan biar dapet nilai bagus, wehehe. Guru yang ini memang agak luluh kalo diberi perhatian, apalagi sama kamu. Iyaaaa kamuuuu…

    Dijual Ke temen temen

    Hanya beberapa dari mereka yang berhasil menjadi tipe yang satu ini, iya guys, jualaannn… Mereka punya jiwa enterpreneur dalam dirinya. Kelak dewasa bakal jadi bill gates, bob Sadino, dan lain lain

    Guru biologi
    Kalo buat guru ini memang kita harus memberi bunga dari varietas yang unggul. Karena kalo ga gitu ntar perkawinan silang nya menghasilkan keturunan letal, imbisil, atau bisa aja ntar karier. Wkwk.. besok-besok bisa dari mawar merah dan berubah menjadi mawar kuning, hijau, dan merah dengan perbandingan genotipe 1:2:1. Ughhh.. gila biologi banget.

    Pacar

    Wweeee… Kalo yang ini semua pasti udah pada tahu. Wani diem deh kalo udah kaya gini. Kan udah pada ngerti semua, yang jones-jones tuh ntar sakit ati kalo dipanjang lebarin. Oke ya, saya ringankan penderitaan kalian semua.

    Guru BK

    Mmm… Sering telat dan sering bersilaturahmi dengan para BK pastinya lambat laun hubungan ini menjadi akrab layaknya persahabatan Anjing Hachiko. Dalam beberapa kasus, kenangan paling berkesan adalah persahabatan antar dua spesies ini. 

    Dan begitulah guys, tulisan freak yang terbit pada hari guru ini. Yang dicetuskan untuk para guru yang berjuang demi pendidikan Indonesia. Mereka bahkan rela kurang diperhatikannya oleh pemerintah agar rakyat Indonesia dapat mengenyam bangku pendidikan yang layak. Terimakasih, Guru!

  • (REBOOK) REVIEW BUKU FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM

    (REBOOK) REVIEW BUKU FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM


    Udah malem yak? Tapi Wani baru aja nih beli buku FANTASTIC BEASTS & WHERE TO FIND THEM karangan J.K. Rowling. Gara-garanya nih karena Wani pingin kupas tuntas filmnya di artikel selanjutnya weheheee. Kan memang sudah jadi rahasia umum kalau novel emang lebih detail dari filmnya. 

    SIPNOSIS

    Hampir setiap rumah para penyihir di seluruh negeri pasti memiliki satu eksemplar buku Fantastic Beasts and Where to Find Them—Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan. Kini hanya untuk waktu terbatas, Muggle juga mendapat kesempatan untuk mengetahui di mana Quintaped hidup, apa yang dimakan Puffskein, dan mengapa jangan sampai menyisakan susu untuk Knarl.

    Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan pada Comic Relief, yang berarti rupiah dan Galleon yang kautukar dengan buku ini akan melakukan sihir melampaui kekuatan penyihir mana pun. Jika kau merasa ini bukan alasan yang cukup kuat bagimu untuk berpisah dengan uangmu, aku hanya bisa berharap para penyihir yang lewat merasa berbuat lebih baik jika mereka melihatmu diserang Manticore.

    Sekedar info juga Wani beli buku ini cetakan GM Oktober 2015, yakni cetakan GM ke sepuluh seharga Rp 38.750 *diskon banyak eh* . Woww.. laris banget ya mbak J.K. Rowling (Jusuf Kala Rowling). Ngibul banget wekekeke. Buku ini lumayan tipis lah menurut Wani karena cuman 136 halaman. Penerjemahnya juga lumayan gaul juga, masa ditulis kaya gini. Totalitasnya harus diakui jempol*

    Alih bahasa : Komalasari Suhendra (seorang muggle)

    Dokumen Pribadi

    Okeh langsung aja, jadi.. Kesan pertama Wani saat pegang buku ini, berasa kayak jadi siswa Hogwarts beneran. Wehh.. Bahkan buku ini dikemas seperti memang ini buku pegangan untuk siswa-siswi Hogwarts. Disampulnya aja penulisnya bukan J.K. Rowling lagi, tapi udah Newt Scamander.

    Dokumen Pribadi

    Kata Pengantarnya pun yang nulis Albus Dumbledore!!! 

    Buku di tanganmu ini adalah duplikat buku Hewan-Hewan Fantastis milik Harry Potter, lengkap dengan coretan-coretan informatif di bagian tepi, baik yang ditulis olehnya atau temannya 

    Wehh, fotocopy an asli dari bukunya Harry Potter, Rekk!!! 

    Dalam kesempatan ini, saya ingin meyakinkan para muggles yang membeli buku ini bahwa semua makhluk lucu yang digambarkan didalamnya adalah fiktif belaka

    Pertama kali dalam sejarah, buku ini juga diterbitkan untuk para muggles. Keren banget kan. Alhamdulillah, saya sebagai muggle bisa dapet buku ini.

    Tapi Jujur aja sih, Wani agak kecewa dengan buku ini. Ternyata beda sama yang ada di film *huhuuuu nangis*. Wani kira buku ini nyeritain Petualangan si Newt Scamander dalam prosesnya membuat buku. Ternyata buku ini adalah hasil nya. 

    Dokumen Pribadi

    Tapi no problem lah, setidaknya bisa belajar Magizoologi dari buku ini. Dibuku ini bakal ada ensiklopedia mengenai Hewan-hewan Fantastis dari A-Z (walaupun tak lengkap karena informasi mengenai Obscurus ngga ada), kemudian mengapa Magizoologi penting? , Sejarah singkat kesadaran muggle, Apakah hewan itu?, Klasifikasi kementerian sihir, dan Hewan-hewan Sihir dalam persembunyian. Benar-benar buku pelajaran sekali :))

    Dokumen Pribadi

    Di sarankan juga nih, selagi tangan kiri pegang novel. Gunakan tangan kanan untuk searching kata² yang belum bisa dimengerti. Seriusss, ga bakal paham kalau ga searching. Apalagi udah K13, eh maksud admin apalagi dibuku ini tidak dilengkapi dengan gambar-gambar makhluk yang ada di ensiklopedia.

    Well menurut Wani, direkomendasikan banget buat kamu fans setia Harry Potter buat beli buku ini. Karena informasi mengenai makhluk ajaib di dunia sihir ada dibuku ini semua (baik yang sudah nongol di film maupun belom) *ya semua, walau engga*. Tapi buat kalian yang coba-coba atau penasaran ya silahkan aja beli, karena buku ini memang membahas makhluk-makhluk kriptid dan memang ada ilmunya yakni Kriptozoologi (ilmu semu yang membahas hewan yang keberadaannya belum terbukti). Cocoklah buku ini sebagai buku pendamping ataupun buku pelajaran sungguhan.

    Jadi Wani kasih rate 4/5 deh. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT :))

    Btw udah malem gini kayaknya Wani agak gimana gitu, masak pas mau nyampul malah kepikiran nikah. Wkwwkwk

    Dokumen Pribadi

    Informasi tentang buku

    Publisher Gramedia Pustaka Utama
    ISBN 9786020318271
    Estimated Weight 0.15 kg
    Country of Manufacture Indonesia
    Publish Date Nov 21, 2016
    Width 14
    Length 20
    Thickness 0.5
    Pages 136
    Language INDONESIA
    Cover Type SOFT COVER
  • Review film Fantastic Beasts and Where to Find Them : Petualangan Magizoologi Di New York City

    Review film Fantastic Beasts and Where to Find Them : Petualangan Magizoologi Di New York City

    http://www.fantasticbeasts.com/mobile/#/gallery/

    Jangan ngaku-ngaku deh jadi fans setia Harry Potter kalau belum nonton film yang satu ini. Tapi sebelum itu, liat dulu yok trailer nyaa

    Dalam novelnya sendiri, Fantastic Beast and Where to Find Them ini adalah salah satu text book milik Harry saat bersekolah di sekolah sihir Hogwarts.
    Buku ini menjadi pedoman bagi para siswa baru di sekolah Harry Potter. Meskipun mereka belum mempelajari isi buku tersebut, karena pada awal pelajaran mereka belum mempelajari tentang makhluk makhluk halus. Pada tahun ketiga mereka mempelajari isi buku tersebut.

    Film ini mengambil setting 70 tahun sebelum era Harry Potter dimulai. Diceritakan dalam film ini Newt Scamander, seorang magizoologi (ahli sihir binatang) memulai petualangannya pada tahun 1918, sedangkan buku tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1927, jadi bisa dibilang bahwa film ini akan bercerita mengenai petualangan dan pengalaman Newt untuk menulis bukunya tersebut. 

    http://www.fantasticbeasts.com/mobile/#/gallery/

    Btw Wani kasih nih sinopsis resmi ke kalian, coba baca

    Petualangan penulis Newt Scamander di Komunitas rahasia New York dari penyihir dan penyihir tujuh puluh tahun sebelum Harry Potter membaca bukunya di sekolah.
    Tahun 1926, Newt Scamander baru saja pulang dari keliling dunia untuk menemukan dan mendokumentasikan makhluk-makhluk sihir. Ia tiba di New York untuk sekadar singgah, dan seharusnya tidak terjadi apa-apa, kalau saja ia tidak bertemu seorang No-Maj, manusia biasa tanpa kekuatan sihir, bernama Jacob, dan berurusan dengan koper sihirnya yang hilang, dan beberapa makhluk sihirnya yang lepas. Ini semua bisa membahayakan kedua dunia – dunia sihir dan dunia non-sihir.

    Jujur sih, ketika wani membaca sinopsis, bakal terlintas di kepala, wah ceritanya tentang hewan yang terlepas gitu ya. Kerennnn. Tapi ternyata, setelah duduk manis di kursi bioskop dan menikmati film yang berlangsung. Wani rasa, wah gue telah ditipu sipnosis ini. Ceritanya sedikit agak luas yang mengarah eittss ntar spoiler :p. Pokoknya ceritanya ga cuman yang ada di sipnosis, bakal ada kejutan dengan alur-alur baru yang bikin melongo sambil bilang, Weh kok bisa gitu ya, Ga kepikiran banget, eh kok tiba-tiba jadi gini, Hahaha..

    Dan menurut wani film ini agak-agak rada miripan sama tetangga sebelah. Yakni Dr. Strange, yang sama-sama menceritakan tentang dunia sihir hanya saja bedanya di Fantastic Beasts ini tidak berada dalam satu dimensi bersama The Avengers. Yaahh :(( padahal bakal keren kalau dari dulu Harry Potter diproduksi Marvel. Haha, apaan sih.

    http://www.fantasticbeasts.com/mobile/#/gallery/

    Selain itu, tokoh antagonis yang ada dalam film, yeah terlalu datar-datar aja menurut Wani. Seakan-akan produser terburu-buru menyelesaikan film dengan mempercepat bagian yang paling klimaks. Tapi wajar aja sih, kalau nggak gitu ntar bakal ada part 1 part 2 kayak sinetron Jessica nanti, Haha .

    http://www.fantasticbeasts.com/mobile/#/gallery/

    Dan yang paling bikin kagum nih, dengan hadirnya makhluk-makhluk sihir di film ini. Sekedar info nih, si Newt ini ternyata sedang menyelamatkan makhluk-makhluk sihir yang terancam punah. Wah, mulia sekali ya hatinya. 

    Wani dapet bocoran juga bahwa film ini akan dibuat lanjutannya. Di Fantastic Beasts 2 bakal ada albus Dumbledore dan Johny Deep , Wahhh jadi ga sabar kan liat lanjutannya :))

    Well, menurut Wani. Sangat direkomendasikan nonton nih film. Dan mungkin artikel ini bukan review atau ulasan yang baik buat kalian karena Wani hanya just share aja sih, sumpah ga bisa nahan cerita spoiler. Hehe *mentang-mentang udah nonton*

    Okeh, ditunggu komennya yaaa.. bay bayy..

    Detail Fantastic Beasts and Where to Find Them 2016
    Genre Film: Fantasi, Petualangan
    Rilis Bisokop: 18 November 2016
    Studio : Warner Bros. Pictures
    Sutradara : David Yates
    Produser : Neil Blair, David Heyman, Steve Kloves, J.K. Rowling, Lionel Wigram
    Penulis Naskah : J.K. Rowling
    Pemain :
    Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Colin Farrell, Ezra Miller, Alison Sudol, Dan Fogler

  • A Backpack journalist?

    A Backpack journalist?

    Instagram.com/awalitaufiqi

    Wani yang basicnya suka traveller dalam kota ini agak gimana gitu ngedenger yang namanya “Backpack Journalist”. Bisa jadi, dia backpacker yg nyambi jadi jurnalis atau bisa juga dia jurnalis yang doyan keluyuran.

    Aaarrgghh..!! Rasa ingin tahu akhirnya membawa Wani ke anak komunikasi UI, namanya kak Sarah. Aminin ya temen² biar Wani bisa nyusul, huehehe 😄

    Bekpek bangets yaa

    Lalu apa itu Backpack journalist?

    Backpack Journalist adalah sebuah fenomena dimana jurnalis diharuskan menjadi videografer,editor ,reporter, sekaligus

    Term itu muncul dari gimanaa jurnalis tsb bakal bawa bawa bekpek yg besaaar karena bawa peralatan untuk meliput

    Dulu, semua itu dikerjain sama org org yg beda kan? Ada cameramen, ada video editor dll

    Tp seiring zaman teknologi makin canggih, kebutuhan berita makin besar, jurnalis dituntut untuk jadi serba bisa.

    Beberapa peralatan si jurnalis

    Namun, apa backpack jurnalist ini merupakan suatu keharusan?

    backpack journalist itu dibutuhkan bgt sama media yg punya dana minim. Kalau si jurnalis serba bisa, dia ga perlu hire camera person. Dan biaya yg harus dikeluarkan media jadi berkurang

    Kalau di perusahaan besar jarang sih ada fenomena backpack journalist

    Tapi bisa juga kalo liat di media, kalo dia liputan keluar negri biasanya cuma satu orang yg dikirim biar biayanya murah. Nah org itu harus bisa semuanyaa.

    Backpack journalist pun juga bisa menyebabkan kurangnya kerja sama dan komunikasi antar journalist, karena semua sudah bisa diatasi sendirian. Karena itu, Backpack journalist hanya benar-benar digunakan jika dibutuhkan saja.

    Nah, buat kalian yang masih ada pertanyaan, atau mau nambahin. Wajib Commentttt!!!! Wkwkwk

  • Zonaku Zona Nyaman?

    Zonaku Zona Nyaman?

    Instagram.com/adetri_

    Tak lama ini, Wani dicurhatin cewek mengenai zona nyaman. Sebenernya Wani bukan pendengar yang baik sih, namun yang namanya sahabat pastilah saling membantu satu sama lain, ya kan ya? … Wkwkwk
    “Kita semua kudu keluar dari zona nyaman kan? Tapi kalo saat kita keluar dari zona nyaman terus ………bla bla bla”, pusing wani mendengar dan membaca curhatan.

    Zona nyaman sebenernya bukan kata yang baru bagi Wani, duluu.. Dulu dan dulu sekali Wani pernah nyoba buat keluar dari zona nyaman dan akhirnya malah jadi nyaman, loh kok. 

    Tapi semenjak itu Wani tahu satu hal, kalo Zona Nyaman yang Wani pahamin ternyata salah. Terus zona nyaman itu apa dong?

    Awalnya sih Wani pikir zona nyaman itu suatu kondisi yang kita nyaman, yang bener-bener kita sukai, dan yang kita inginkan. Tapi ternyata nih Zona nyaman itu 

    Kondisi disaat kita tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki kondisi sekarang

    Contohnya seperti kamu musuhan sama temenmu, tapi kamu biarin aja walaupun kamu nggak suka. Dan kamu menjadikan itu sebagai zona nyamanmu. Itulah konsep Zona nyaman sebenarnya.

    Salah satu solusinya adalah keluar dari zona nyaman. Jangan jadiin itu sebagai zona nyamanmu.

    Namun kalo kita keluar dari zona nyaman terus jadi nyaman, loh kok keluar dari zona nyaman masuk ke zona nyaman lagi?

    Kalo menurut Wani sih, Zona nyaman lebih tepat lagi dikatakan Diam diTempat. Atau bahasa kerennya nih NOT MOVING ON ZONE. Tidak melakukan apa-apa, hingga membuat segalanya baik buruk tetap dinyaman nyamanin menghasilkan zona nyaman.

    Keluar dari zona nyaman pun bukan berarti keluar terus menuju zona tak nyaman, tapi menuju zona perubahan. Dari yang mulanya diam ditempat menjadi banyak pergerakan yang menciptakan perubahan. Tapi berhati-hati ya guys, keluarlah menuju perubahan yang berkualitas, jangan terperosok kedalam perubahan yang membuat anda kian memburuk.

    Zonaku zona nyaman? Kalo wani sih, Zona nyaman gue itu ya keluar dari zona nyaman.

    Dan bye guys, tetap nyamankan diri kalian dengan berbagai perubahan yang berkualitas. lakukan apa yang kamu ingin dan kamu suka.