
Suara tembakan terdengar jelas, membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku pernah mendengar beberapa kali tembakan seperti itu di sekitar kampung. Beberapa orang menggunakannya untuk berburu binatang di hutan.
Tiba-tiba suara itu lenyap. Hanya tersisa kesunyian yang mencekam. Mungkin salah dengar, pikirku. Dalam kegelapan aku tahu ayah tak lagi bersamaku. Aku begitu merindukannya.
“Tok.. tok.. tok…”, terdengar ketukan pintu dengan tempo tergesa-gesa. Kudapati anak berusia sebayaku. Dapat kurasakan ketakutan yang terlihat jelas dimatanya, seolah bersembunyi dari sesuatu.
“Kusno”, dengan suara nafas tertahan ia menjulurkan tangan tanda perkenalan. Aku masih terdiam tanpa kata, menyaksikan bocah asing yang dengan tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam rumah. Ntah apa yang membuatnya berfikir untuk masuk ke rumahku, tapi satu hal yang kini aku tahu, bocah ini adalah Kusno, anak pak Raden. Tetangga sebelah.
==–==
Menjelang pagi hari sinar matahari masih saja redup. Kicauan burung hutan terdengar sayup-sayup. Angin besar sisa semalam benar-benar menusuk tulang.
“Dirrrmmmmaaaannnn…“, panggil Kusno dari balik pintu. Pagi-pagi sekali kami akan pergi ke ladang. Sejak kejadian tersebut, kini kami berteman layaknya sebuah sahabat.
Aku mengenal Kusno sebagai orang yang berkharisma. Apa saja yang dilakukan Kusno, aku dan teman-teman tak segan untuk mengikuti. Apapun yang dikatakan Kusno, kami akan patuh dan mendengarkan. Pembawaan Kusno yang jagoan, bahkan berani berkelahi dengan anak belanda menjadikan Kusno seperti pemimpin diantara kami. Ia juga seorang pemuja seni, dinding rumahnya pun penuh bungkus-bungkus rokok Wesminster keluaran Inggris yang bergambar bintang-bintang terkenal.
“Hoe gaat het, Dirman? je vanmorgen bent klaar voor avontuur?“, Ucap Kusno dengan dengan bahasa belanda. Tentu saja Kusno bisa berbicara belanda, ia bocah berpendidikan. Bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) mengajarkannya banyak hal, tentunya juga akan memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS). Aku merasa yakin suatu saat Kusno akan menjadi orang besar dan merubah Indonesia.
“Kusno opmerkelijk, natuurlijk klaar“, timpalku. Aku juga bisa berbicara bahasa belanda. Peninggalan satu-satunya dari Ayahku adalah sebuah kamera dan pena. Menjadi wartawan seperti ayah membuatku harus paham bahasa belanda.
==-=-=-=-=
Terbaring di ranjang rotan ini membuatku nyaman sekali, aku tak pernah merasa begitu hidup. Ku pejamkan mataku pelan-pelan. Hanya suara jangkrik yang menemaniku malam ini.
“Sodara.. Sodaraa.. Rakyat Indonesiaa..“, Teriak Kusno dari kamar kosnya yang pengap itu, di depan cermin. Suaranya yang lantang sangat mengganggu tetangga sepertiku. Sudah kesekian kalinya Kusno berlatih orasi. Kusno mengaku ia terilhami oleh perkataan HOS Tjokroaminoto, “Demi menjadi orang besar, pemuda harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.”
“Sudah gila kamu ya”, ucapku berteriak karena jengkel dengan polahnya yang hobi berbicara sendiri.
=-=-=-=-=
Kami berpisah ketika kusno akan melanjutkan pendidikan nya di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Sedangkan aku sendiri juga akan bekerja di Jakarta, aku mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu media surat kabar di Jakarta. Tempat bekerja ayahku dulu.
Ketika aku sukses membangun karirku di dunia surat kabar, aku mendengar desas-desus Kusno aktif berorganisasi di organisasi kemerdekaan. Tepat 17 Agustus 1945, Kusno yang dikenal kebanyakan rakyat Indonesia dengan Soekarno itu pun memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Aku tak mau ketinggalan dalam mengabadikan momen bersejarah ini. Pengaruh Soekarno pada sejarah Indonesia besar sekali, tidak mungkin orang memungkiri. Kusno yang kukenal memang orang yang luar biasa. Jika Kusno berjuang dengan akal dan kekuasaan, maka aku berjuang dengan akal dan tinta.
=-=-=-=-=
Puji Tuhan karena telah memberiku umur yang panjang. Keadaan berubah banyak setelah kematian Soekarno, Sahabat kecilku. Kini media di bungkam. Tak boleh ada kritik. Soeharto suka membelenggu pers. Sepertinya terdengar jahat. Ya memang.
Namun di sisi yang lain, cara ini mampu meredam berbagai keadaan dan membangun citra tentang negara yang aman dan pemimpin yang berwibawa tanpa cela. Saat itu tidak ada media satupun yang berani mengkritik pemerintah secara terbuka. Berita yang berpotensi mengundang konflik, seperti perkehian antar-etnis, langsung disikapi dengan mengirim rilis ke semua media agar tak memuatnya. Di zaman Soeharto, media yang berani menyentil presiden akan ‘dilenyapkan’.
Aku termasuk orang yang dilenyapkan, Memasuki Orde baru, aku tak punya siapa-siapa lagi. Keadaan membuatku harus bertahan hidup dengan mandiri. Dengan tato aku bertahan hidup. Bergumul dengan para preman sudah menjadi keseharianku.
Beberapa waktu kemudian, muncul istilah petrus. Mereka menghabisi para preman tanpa proses peradilan. Kalau tidak ditembak, para preman akan dijerat tali sampai mati. Keadaan ini tak hanya membuat para preman resah, tetapi orang yang mempunyai tato juga ketakutan. Mereka khawatir menjadi korban keganasan petrus. Sudah ku coba untuk menyetrika tatoku sendiri. Namun citraku yang buruk membuatku berada disini, di ladang. Menunggu ajal datang dengan tangan dan kaki terikat.

Leave a Reply to Ainun Mas Cancel reply